Tahun 2022. Saranjana Interactive baru saja merilis sebuah game yang sejak berbulan-bulan lalu menjadi bahan pembicaraan di internet.
Namanya The Jagakarsa Project.
Game itu tidak dimainkan menggunakan komputer biasa. Ia membutuhkan sebuah perangkat khusus bernama Pain Reality, teknologi virtual reality eksperimental yang dikembangkan oleh Saranjana Interactive.
Pain Reality bukan sekadar membuat pemain melihat dan mendengar dunia virtual.
Perangkat itu dapat mensimulasikan rasa sakit dan bau.
Luka sayatan akan terasa seperti luka sungguhan. Bau tanah basah, asap mesiu, darah, bahkan aroma makanan akan diterjemahkan langsung ke indra pemain. Namun sistem tersebut memiliki batas keamanan yang ketat. Rasa sakit yang diberikan tidak pernah cukup parah untuk membunuh atau menyebabkan cedera serius.
Setidaknya, itulah yang diklaim perusahaan.
The Jagakarsa Project sendiri mengambil latar di Jakarta pada tahun 1920 hingga 1925, ketika wilayah tersebut masih dilanda perang saudara.
Pada masa itu, Jakarta belum menjadi bagian dari Republik Jakarta Selatan.
Wilayah utara dikuasai Kerajaan Jayakarta, sebuah kerajaan yang mempertahankan sistem monarki dan tradisi lama. Sementara itu, Jakarta Selatan menjadi pusat berbagai kelompok revolusioner sosialis yang menentang kekuasaan kerajaan.
Konflik yang awalnya hanya berupa pertentangan politik berubah menjadi perang terbuka.
Jalan-jalan Jakarta menjadi medan pertempuran.
Kampung-kampung terbakar.
Dan ribuan orang tewas demi sebuah masa depan yang bahkan belum mereka ketahui bentuknya.
Namun ada satu fitur The Jagakarsa Project yang membuat game ini berbeda dari game perang lainnya.
Pemain tidak memilih karakter.
Pemain mewarisi karakter tersebut.
Sebelum permainan dimulai, sistem akan melakukan sinkronisasi berdasarkan data keluarga pemain. Dari sana, Pain Reality akan menentukan leluhur mana yang dapat dihubungkan dengan tubuh pemain.
Jika leluhur tersebut merupakan seorang loyalis Jayakarta, pemain akan ditempatkan di pihak kerajaan.
Jika leluhurnya merupakan bagian dari kelompok revolusioner Selatan, pemain akan bergabung dengan mereka.
Awalnya aku mengira semuanya hanyalah gimmick pemasaran.
Sampai akhirnya aku membeli gamenya.
Setelah selesai Instalasi aku masuk kedalam game tersebut dengan perangkat pain realityku. aku terkejut ternyata kakek merupakan seorang pendekar sekaligus panglima perang kerajaan Jayakarta. Aku terkejut dikarenakan Ayahku tidak pernah menceritakan tentang kakekku, karena ia meninggal sebelum ayahku lahir.Aku hanya tau sedikit tetang dia dari keluargaku, ia pendekar silat dari wilayah marunda hanya itu yang kutahu. Saat masuk game seketika atmosfer disekitarku berubah menjadi mencekam, bau bubuk mesiu tercium begitu kuat. darah dimana-mana mayat bergeletakan aku berdiri di tengah desa yang terbakar. tiba-tiba seseorang menghampiriku dan berteriak dari kejauhan "MEREKA DATANG!!!" sebelum sempat bertanya tiba tiba pedang menebas dari arah kiri. lalu aku menepisnya kemudian kabur untuk menyusun strategi selanjutnya